Dua Waktu yang Dilarang Nabi SAW untuk Jima Suami Isteri

12 Desember 2021, 15:54 WIB
Ilustrasi, Dua Waktu yang Dilarang Nabi SAW untuk Jima Suami Isteri. /Instagram.com/@rizkybillar

Portal Bojonegoro - Sebagai pasangan suami isteri pada dasarnya dibolehkan melakukan hubungan intim kapan saja baik itu di malam hari maupun siang ataupun di pagi hari.

Jima merupakan salah satu bentuk ibadah yang hanya boleh dilakukan setelah menikah, bahkan apabila diniatkan ikhlas untuk meraih pahala maka akan bernilai sedekah dan mendapat ganjaran di sisi Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Hubungan Intim kalian (suami-isteri) termasuk sedekah.” (HR Muslim)

Namun ada waktu khusus yang mana diharamkan melakukan jima, apabila melakukannya maka akan bernilai dosa.

Baca Juga: Keajaiban Doa Seorang Isteri Kepada Suami Tercinta

Melalui channel Youtube Nasihat Muslim, terdapat dua waktu yang dilarang Nabi SAW untuk melakukan Jima bagi pasangan suami isteri.

Berikut dua waktu yang dilarang melakukan hubungan intim atau jima bagi suami isteri ;

1. Di siang hari saat bulan Suci Ramadhan

Puasa Ramadhan wajib bagi setiap muslim yang sudah baligh, berakal, dalam keadaan sehat dan tidak sedang melakukan safar.

Saat puasa melakukan jima menjadi terlarang bahkan menjadikan batalnya puasa. Pelanggaran ini dihukumi dengan hukuman yang berat dalam kafaroh.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata: “suatu hari kami duduk bersama Nabi SAW kemudian datanglah seorang pria menghadap Nabi pria itu mengatakan, “Wahai Rasulullah celaka aku” Rasulullah berkata

“Apa yang terjadi padamu?”, Pria itu Menjawab “aku telah menyetubuhi isteri padahal aku sedang berpuasa,”

Baca Juga: Resep Sederhana Isteri yang Berkhasiat dan Makin Awet, Spesial Untuk Sang Suami

Kemudian Rasulullah bertanya “apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria itu menjawab, “tidak”

Rasulullah bertanya lagi, “ apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut – turut?” Pria itu menjawab “tidak”

Rasulullah bertanya lagi “apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” pria itu menjawab, “tidak.”

Kemudian Abu Hurairah berkata Nabi SAW lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi SAW.

Kemudian Rasulullah berkata kepada pria tadi “ambillah dan bersedekahlah dengannya.”

Lantas pria itu mengatakan “apakah kurma ini akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku.”

Baca Juga: Ini Syarat Memilih Calon Isteri Idaman, Simak Penjelasannya

Kemudian Rasulullah SAW berkata “berilah makanan tersebut pada keluargamu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Melakukan jima di siang hari bulan Ramadhan adalah perbuatan dosa besar dan pelakunya wajib membayar kafaroh seperti yang disebutkan dalam hadist:
- membebaskan satu orang budak,
- jika ia tidak memperoleh maka ia harus berpuasa selama dua bulan berturut – turut,
- jika ia tidak mampu melakukannya maka ia harus memberi makan kepada 60 orang miskin.

2. Saat isteri sedang haid

Diharamkan melakukan jima saat isteri sedang haid.

Allah SWT berfirman “Mereka bertanya kepadamu tentang haid, Katakanlah “haid itu adalah sesuatu yang kotor” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang – orang yang bertaubat dan menyukai orang – orang yang mensucikan diri.” (QS Al Baqarah 222).

Baca Juga: UAS, Mana yang Lebih di Dahulukan Orang Tua atau Isteri

Para ulama sepakat bahwa jima saat haid dihukumi haram, dalam hadist disebutkan “Barang siapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah).

Hadist ini tidak hanya menerangkan larangan jima saat haid tetapi juga menerangkan larangan jima melalui dubur.

Tidak boleh sama sekali melakukan jima melalui dubur apapun keadaannya. Rasulullah bersabda “benar – benar terlaknat orang yang menyetubuhi isterinya di duburnya.” (HR Ahmad).

Isteri yang sedang haid masih boleh melayani suami dengan cara apa saja asal bukan jima. “lakukanlah segala sesuatu selain jima.” (HR Muslim). Demikian semoga bermanfaat.***

Editor: M. Irzal

Sumber: YouTube

Tags

Terkini

Terpopuler